Saturday, 6 April 2013

Menembus Panas Berakhir Senyum


3 Maret 2013
Pagi buta aku terbangun dari tidurku. Ku lihat kamarku yang gelap karena lampu kamarku selalu kumatikan setiap tidur. Kuingat bahwa hari ini aku akan mengikuti try out STIS di Darmajaya, Bandar Lampung. Aku beranjak dari tempat tidurku lalu kuambil HP nokia silverku. Waktu telah menunjukkan pukul lima lewat.

Segera kubuka kelambu yang tempat keluarnya tepat berada di sebelah kiriku. Kuterangi kamarku dengan lampu putih yang sangat menyilaukan mata saat itu. Seluruh isi kamarku pun terang benderang. Dinding-dinding pink turut menyilaukan mataku dengan pantulan cahayanya. Begitu juga sebuah lemari merah yang terletak di sebelah kiri kakiku ketika aku tidur turut membuat  mataku semakin merasa silau. Di bagian tengah atas kaca lemari itu terdapat tulisan arab basmalah berwarna hijau yang membuat aku teringat pada Sang Kuasa ketika melihatnya.

Aku segera menuju sumur yang terletak di ujung belakang kamarku. Disini tak seberapa silaunya. Lampu kecil lima watt membuat pagi itu semakin terasa pagi. Dan langit yang masih hitam kebiruan diatasnya. Ku guyur tangan dan kakiku dari seember air yang kuambil sendiri dari sumur itu dengan sebuah gayung merah. Dinginnya pagi itu  semakin menjadi-jadi ketika guyuran air itu membasmi kulitku.

Kudekatkan diriku pada-Nya dan aku berdoa atas apa-apa yang jadi permintaanku pada-Nya di atas sajadah biru dengan rumbai-rumbai yang telah gundul di bagian atasnya. Lalu segera kulipat sajadah itu untuk kugantungkan di dinding dekat pintu bersama handuk merah dan sarung coklatku.
Semua yang aku butuhkan untuk berangkat ke Darmajaya segera kusiapkan. Sebuah celana jeans dan kaos hitam untuk aku gunakan serta jaket putih dari sisa peninggalan kelas sembilan untuk melindungiku dari dinginnya perjalanan nanti. Tak lupa juga celana jeans hitama dan kemeja biru menjadi pakaian  untuk berjaga-jaga siapa tahu hujan akan menghadangku di perjalanan.

Ku taruh semua itu di atas kasur yang kelambunya telah aku masukkan pada sebuah kotak yang terletak di bagian kanan dipan. Terdapat sebuah Al-Quran hiaju kecil dan sebuah obat nyamuk semprot di sampingnya.

Lantas aku menuju meja belajarku yang tak jauh dari kamar. Aku keluarkan isi tasku yang dipenuhi dengan soal-soal dan aku sisakan sebuah buku tulis yang mungkin bisa saja berguna nantinya.
Seusai mandi dan memakai baju yang telah aku siapkan sebelumnya, aku segera ke meja makan. Disana telah tersedia semangkuk mie telur buatan ibuku. Ku tambah dengan sedikit nasi untuk semakin menambah  energi. Mie dan nasi yang panas itu telah membuat tubuhku terasa lebih enak dari sebelumnya yang dingin sekali.

Aku terbiasa menghidupkan radio saat sarapan. Channel RRI. Aku arahkan channelnya ke angka 88 dan agak aku keraskan suaranya. Sayangnya topik bahasan saat itu kurang menarik bagiku. Tapi tak apalah hanya untuk sekedar menemaniku makan pagi.

Ayahku telah mengeluarkan motor Revoku. Motor berusia lima tahunan itu masih bisa kuandalkan. Goresan-goresan di badan motor itu semakin mempertegas berapa umurnya. Namun terdapat logo Chelsea di jok bagian belakang sehingga motor itu terlihat lebih keren.

Aku telah siap begitu juga motorku. Ayah dan ibuku tepat berada di belakangku ketika aku pergi. Aku sempat berpamitan kepada mereka. Kulihat pagi masih buta. Gelap, sunyi, dan dingin. Untungnya tangki bensin motorku masih terisi. Setidaknya setengahnya. Kurasa cukup bila hanya pulang pergi ke rumah Viko, teman yang aku akan bersamanya ke Darmajaya.

Tak terdengar apapun diperjalanan kecuali aungan motorku. Dinginnya pagi itu tak seberapa kurasakan karena jaketku cukup tebal untuk menghalanginya. Gelapnya jalanan kutembus dengan lampu motor yang masih berfungsi dengan baik. Langitpun masih gelap kebiruan. Mentari masih membutuhkan waktu untuk menampakkan dirinya.

Putaran demi putaran roda. Sambil kuingat bahwa aku baru dua kali ke rumah Viko. Aku mungkin saja lupa jalan menuju ke rumahnya. Akupun mempercepat laju motorku agar aku masih punya waktu untuk mencari rumahya.

Motorku terus berpacu. Membelah dingin. Menembus gelap. Menepis sunyi.
Aku lewat di depan gang rumah Ilham. Ada masjid disana yang membuat aku mengenali gang itu. Dari situ aku mulai memperlambat laju motorku. Kulihat ke arah kanan sambil mencari gang rumah Viko. Ada sebuah gang dengan rumah berwarna kuning di sebelahnya. Aku mendekat. Ternyata itu bukan gang melainkan garasi rumah kuning tersebut.

 Sambil kubawa motorku pelan aku menemukan sebuah gang. Bertuliskan jalan Raflesia. Aku kira itu gangnya. Ya. Aku yakin. Di jalanan yang masih sepi aku mengarahkan motorku untuk masuk gang tersebut. Ya tak salah lagi. Inilah gangnya. Dan kutemukan rumah Viko.

Kuhentikan motorku di depan rumahnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan baju singletnya meminta aku untuk masuk. Aku hanya diam. Lalu ia masuk lagi ke rumahnya. Segera kubuka gerbang kurang dari satu meter kira-kira cukup untuk motorku masuk. Aku masuk. Sambil aku menunggu dia, aku melihat-lihat rumah tetangganya. Itu adalah rumah Tara, temanku saat di kelas tujuh.

Aku melepaskan jaketku. Agak sedikit kotor. Kurasa akibat burung-burung yang menabrakkan badannya saat di perjalanan tadi. Agak lama aku menunggu. Aku duduk di kursi depan rumah Viko. Barulah ia keluar. Dengan jaket putih dan celana jeansnya ia mengeluarkan motor Vixion yang selalu ia bawa ke sekolah.

Kupikir aku akan menitipkan motorku di rumahnya tapi ia memintaku untuk menitipkan di rumah Puji karena kami akan ke rumah Puji terlabih dahulu sebelum berangkat.

Kami pun segera berangkat. Di pertigaan Ganjar Agung kulihat sudah ada Mustika, Ilham, dan Ichwan. Mereka sedang menunggu Sukri. Kami ikut bergabung bersama mereka. Viko yang belum sarapan pun menyempatkan untuk makan disitu. Tak lama kemudian Suci dan Ayahnya lewat di sebelah kami. Viko yang merasa kenal dengan ayahnya Suci merasa malu. Tapi ku pikir itu biasa saja. Setelah Viko menyelesaikan makannya, barulah Sukri datang. Dengan wajah orang sakit yang lemas. Ia seperti tak kuasa membawa motor apalagi membonceng Mustika. Tapi ia tetap memaksakan dirinya.

Ichwan tak sabar untuk segera ke rumah Puji. Maklum ia pacar Puji. Ia di depan saat kami ke rumah Puji. Aku dan Viko yang berangkat belakangan membawa motor kami dengan kebut. Sempat kulihat Suci dan ayahnya di pinggir jalan. Suci dengan baju dan jilbab abu-abunya sedang duduk di trotoar sambil menggenggam handphone sementara ayahnya duduk di atas motor. Kurasa ada yang sedang mereka tunggu.

Ini dalah pertama kalinya aku ke rumah Puji. Kami melewati jembatan yang tepat berada di sebelah kiri kami. Di sebelah kiri jembatan itu terdapat pohon yang sangat besar. Ketika tiba di rumah Puji, aku sempat kaget. Tak seperti rumah-rumah anak-anak smansa yang aku tahu. Rumahnya tergolong sederhana. Bertetangga dengan padi-padi yang hijau. Ada sebuah pohon di depan rumahnya dan beberapa pot kosong dibawahnya. Ibunya sedang membersihkan halaman rumah.
Kutitipkan motorku disitu. Perjalanan pun dimulai.

Aku bersama Viko, Mustika dan Sukri, Puji dan Ichwan, sedangkan Ilham sendirian. Di tengah 
perjalanan yang begitu panjang, ada banyak cerita yang terjadi. Eantah mau jatuh, tertabrak ataupun ditabrak. Tapi dari banyak cerita itu yang paling mengesankan bagiku adalah ketika ada seseorang yang bersama (mungkin) anaknya. Ketika aku dan Viko ingin menyalip mereka dari sebelah kanan, mereka mengarahkan motor mereka ke sebelah kanan juga. Karena laju motor kami yang begitu kencang, Viko mengarahkan motor kami ke sebelah kiri tapi tiba-tiba motor mereka juga bergerak ke sebelah kiri. Sontak aku panik. Den gan jarak yang sudah begitu dekat antara motor kami dan motor orang itu. Kupikir tinggal menunggu waktu saja tabrakan akan terjadi. Aku ketakutan. Jantungku terasa berhenti sesaat. Aliran darah pun berhenti seketika. Mataku hanya bisa memandang apa yang akan terjadi. Untungnya sebelum tabrakan itu benar-benar terjadi, Viko mengarahkan motor ke tanah sebelah kiri jalan. Tanah berbatu dan berlubang. Aku sempat terpental dari tempat dudukku. Langsung kupegang pundak Viko agar aku tidak terjatuh dari motor. Alhamdulillah kami masih selamat. Allah masih menjaga kami dari malapetaka itu.
Kami sampai di Darmajaya. Kulihat tulisan besar Darmajaya di bagian atas gedung. Jalanan sangat padat. Bahkan sangat-sangat padat. Maklum saja kota besar. Kami langsung memarkirkan motor di jajaran motor yang telah terparkir. Cukup ramai. Ada banyak motor yang telah terparkir di sana. Aku dan teman-temanku punya sedikit waktu untuk beristirahat sebelum try out dimulai. Kami mengisi istirahat kami dengan obrolan yang menyegarkan sambil duduk di kursi biru panjang di bagian belakang gedung.

Setelah itu kami masuk ke dalam gedung. Anak-anak dari sekolah lain juga sudah pada masuk. Di perjalanan menuju gedung, Viko sempat menanyakan perihal tiketnya karena ia belum memiliki tiket.

Viko ,” kak... kak Thosan, tiket saya gimana ?
Thosan langsung menjawab,” sono.. sono”.
Dengan nada pelan aku berkata kepada Viko,” susah ngomong sama dia”.
Viko, “ kalo ngomong seenak dia”.

Di pintu masuk aku dan teman-temanku dicegat empat wanita cantik. Mereka memeriksa tiket kami lalu merobeknya. Salah seorang dari mereka memintaku untuk menuliskan nama di tiket tersebut. Ia berbaik hati meminjamkanku pulpennya. Disana juga ada seorang cowo dan seorang cewe sedang duduk-duduk di depan laptopnya. Mungkin mereka menjual tiket on the spot dan via internet.
Kami diarahkan ke ruangan di bagian atas gedung. Kami sempat berkali-kali menaiki anak tangga. Di bagian dinding tangga tersebut terdapat kertas petunjuk bertuliskan try out nasional stis dan sebuah panah besar berwarna biru mengarah ke atas.

Ruang tes masih sangat sepi. Baru ada beberapa peserta dan seorang pengawas cewe. Akupun langsung memilih tempat duduk di bagian tengah. Tak lama berselang, ruang tes menjadi ramai. Hampir semua bangku kuliah itu terisi penuh sementara bangku di depan dan di belakangku masih kosong. Ruang tesnya cukup luas dangan dinding putihnya sementara di bagian belakang adalah dinding kaca bertirai hijau.

Telah tersedia tiga paket soal berwarna merah muda, kuning dan biru. Ketiganya adalah matematika, bahasa indonesia dan pengetahuan umum. Pengawas cantik itu membacakan tata tertib dan meminta kami untuk ke kamar kecil sekarang jika ingin ke sana karena pada saat tes tidak ada yang boleh ke kamar kecil.

Tes pun dimulai. Satu demi satu lingkaran-lingkaran kecil di LJKku terisi. Masing masing paket soal berisi enam puluh soal. Dimulai dari paket soal yang paling saya suka, matematika selama sembilan puluh menit. Setiap soal aku baca dengan teliti dan hati-hati. Aku harus mendapatkan skor sebesar-besarnya disini. Ada soal yang gampang tapi tak sedikit soal yang susah. Aku hanya mengisi kurang lebih tiga puluh enam soal.

Selanjutnya bahasa inggris. Ini merupakan paket soal yang masih cukup sulit bagiku tapi mau tak mau suka tidak suka aku harus mengahadapinya. Dilanjutkan pengetahuan umum. STIS hanya diperuntukkan bagi anak-anak IPA tapi untuk tes tahap pertama ini, anak-anak IPA harus berurusan dangan soal-soal yang tak biasa mereka hadapi. Dalam soal tersebut terdapat soal ekonomi,sosiologi,TIK,BPS dan STIS.

Sebenarnya setelah selesai mengerjakan soal-soal tes kami disuruh untuk mengikuti pembahasan. Tapi karena teman-temanku mengajak untuk jalan-jalan, aku terpaksa ikut. Maklum, namanya juga ngebonceng. Kami pergi ke Mall. Viko yang mengajak kami. Ia ingin memperbaiki jamnya yang rusak. Kami sempat naik turun eskalator sebelum akhirnya menemukan tempat makan.

Aku duduk bersama Viko pada satu meja sementara Puji,Ichwan,Mustika dan Sukri duduk pada meja di sebelah kami. Waktu palayannya datang dengan menyodorkan daftar menu, aku tak tahu mau memesan apa. Jadi aku samakan saja dengan Viko. Suasananya redup. Lampunya terhalangi sebuah bahan transparan sehingga tidak silau. Suara musik yang terdengar cukup keras menemani kami menunggu datangnya pesanan. Suaranya menggelegar. Mungkin untuk beberapa orang suara itu dirasa sangat mengganggu karena kerasnya.

Di sebelah kiri dari tempat dudukku ada dinding kaca yang sudah retak. Disitu ada tulisan kecil “awas ada kaca”. Sementara di depan ada sebuah tv kecil tergantung. Di lantas atas terlihat dari tempat dudukku orang-orang sedang bermain biliar.

Aku terhenyak ketika akan membayar. Ternyata aku habis tiga puluh ribu rupiah. Padahal yang aku makan hanya nasi goreng yang tak seberapa banyak dengan tepung kopong berisi benda putih didalamnya. Ditambah air jeruk dengan es yang sangat besar bahkan mungkin cairan dari es itu lebih banyak dengan air jeruknya.

Kami segera pulang. Kami menempuh perjalanan panjang dibawah terik matahari yang begitu menyengat dan membakar kulit. Kulihat jam di hpku sudah menunjukkan pukul satu lebih sementara kami belum shalat. Di tengah perjalanan, Ichwan mengingatkan Viko untuk mencari Masjid untuk shalat terlebih dahulu. Kami pun berhenti di sebuah Masjid yang tepat berada di sebelah kiri jalan. Masjid yang tak begitu besar tapi cukup bagus dan bersih. Kami bersitirahat sejenak disana sambil melepas lelah.

Hpku bunyi. Ada sms dari Adi. “gung kamu juara 3”. Aku sangat gembira. Aku langsung mencium jari telunjuk kananku lalu kuangkat ke atas untuk mengingatkanku kepada-Nya. Karena Dialah yang telah memberi semua nikmat kepadaku. Aku langsung menanyakan peringkat teman-temanku yang lain. Suci 13, Viko 89 yang laen lupa, jawabnya.Tak lama kemudian hpku berbunyi lagi. Dapat piala sama uang gung, sms Adi.

Kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami menuju ke rumah Puji karena aku akan mengambil motorku yang dititipkan disana. Di rumah Puji kami beristirahat lagi. Wajar, perjalanan kami bukanlah perjalanan singkat. Kami menempuh empat kabupaten kota sekaligus. Sedangkan aku menempuh lima kabupaten kota karena rumahku di Lampung Timur.

Di rumah puji, kami disuguhi air minum dan beberapa potong buah. Aku sempatkan untuk sms Adi. Hadiahnya kamu ambil dulu ya Di. Dia langsung membalas. Oke gung tapi senen makan-makan ya.

Hari ini aku sangat senang. Meskipun perjalanan panjang harus aku tempuh dari sebelum matahari terbit sampai akan terbenam. Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga. Tapi aku mendapatkan hasil yang tak terpikirkan sedikitpun di benakku. Hasil yang luar biasa bagiku. Terima kasih ya Allah.
Comments
0 Comments

No comments: